BAB I

PENDAHULUAN

Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan, langkah- langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Teknik adalah cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat berganti- ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran.

Penulisan makalah ini digunakan untuk melengkapi tugas yang diberikan oleh dosen dan sebagai perantara belajar bagi mahasiswa yang berguina untuk bekal sebagai calon pengajar. Didalam makalah ini akan disampaikan berbagai strategi, metode, dan teknik dalam proses belajar mengajar.

Tujuan pembelajaran pada bab ini adalah

  • Dapat memahami teorema Pythagoras;
  • Dapat menghitung panjang sisi segitiga siku-siku jika dua sisi lain diketahui;
  • Dapat menghitung perbandingan sisi-sisi segitiga siku-siku istimewa;
  • Dapat menghitung panjang diagonal pada bangun datar.

Indikator

Merupakan kompetensi dasar yang lebih spesifik dan operasional yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran

Indikator :

–       siswa dapat mengerti pengertian teorema phytagoras

–       siswa dapat menerti teorema phytagoras

–       siswa dapat mnjelaskan teorema phytagoras dengan alat peraga

–       siswa dapat memahami tripel phytagoras

–       siswa dapat mengerjakan soal dengan menggunakan teorema phytagoras

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pembahasan Strategi

Belajar mengajar adalah kegiatan guru dalam proses belajar mengajar yang dapat memberikan kemudahan atau fasilitas kepada siswa agar dapat mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan. Strategi belajar mengajar yang baik adalah yang dapat menjamin tercapainya tujuan pengajaran yang efektif, efisien, dan ekonomis serta dapat meningkatkan keterlibatan siswa baik secara intelektual maupun fisik.

Berbagai jenis strategi Belajar Mengajar dapat dikelompokkan berdasarkan berbagai pertimbangan anatra lain sebagai berukut:

  1. Atas dasar pertimbangan proses pengolahan pesan.
  2. Strategi Deduktif.

Dengan Strategi Deduktif materi atau bahan pelajaran diolah dari mulai yang umum, generalisasi atau rumusan, ke yang bersifat khusus atau bagian-bagian. Bagian itu dapat berupa sifat, atribut atau ciri-ciri. Strategi deduktif dapat digunakan dalam mengajarkan konsep, baik konsep konkret maupun konsep terdefinisi.

  1. Strategi Induktif.

Dengan Strategi Induktif materi atau bahan pelajaran diolah mulai dari yang khusus (sifat, ciri atau atribut) ke yang umum, generalisasi atau rumusan. Strategi Induktif dapat digunakan dalam mengajarkan konsep, baik konsep konkret maupun konsep terdefinisi.

 

  1. Atas dasar pertimbangan pihak pengolah pesan.
  2. Strategi Ekspositorik.

Dengan Strategi Ekspositorik bahan atau materi pelajaran diolah oleh guru. Siswa tinggal “terima jadi” dari guru. Dengan Strategi Ekspositorik guru yang mencari dan mengolah bahan pelajaran, yang kemudian menyampaikannya kepada siswa. Strategi Ekspositorik dapat digunakan di dalam mengajarkan berbagai materi pelajaran, kecuali yang sifatnya pemecahan masalah.

  1. Strategi Heuristik.

Dengan Strategi Heuristik bahan atau materi pelajaran diolah oleh siswa. Siswa yang aktif mencari dan mengolah bahan pelajaran. Guru sebagai fasilitator memberikan dorongan, arahan, dan bimbingan. Strategi Heuristik dapat digunakan untuk mengajarkan berbagai materi pelajaran termasuk pemecahan masalah. Dengan Strategi Heuristik diharapkan siswa bukan hanya paham dan mampu melakukan suatu pekerjaan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, akan tetapi juga akan terbentuk sikap-sikap positif, seperti: kritis, kreatif, inovatif, mandiri, terbuka.

 

  1.  Atas Dasar Pertimbangan Pengaturan Guru
    1.  Strategi Seorang Guru. Seorang guru mengajar kepada sejumlah siswa
    2. Strategi Pengajaran Beregu (Team Teaching). Dengan Pengajaran Beregu, dua orang atau lebih guru mengajar sejumlah siswa. Pengajaran Beregu dapat digunakan di dalam mengajarkan salah satu mata pelajaran atau sejumlah mata pelajaran yang terpusat kepada suatu topik tertentu.

 

  1.  Atas Dasar Pertimbangan Jumlah
    1. Siswa Strategi Klasikal
    2. Strategi Kelompok Kecil
    3. Strategi Individual

 

  1. Atas Dasar Pertimbangan Interaksi Guru dengan Siswa.
    1. Strategi Tatap Muka. Akan lebih baik dengan menggunakan alat peraga.
    2. Strategi Pengajaran Melalui Media. Guru tidak langsung kontak dengan siswa, akan tetapi guru “mewakilkan” kepada media. Siswa berinteraksi dengan media.

 

  1. B.     Pembahasan Metode

Pembahasan ini akan dijelaskan beberapa metode belajar mengajar antara lain sebagai berikut :

  1. Metode Ceramah

Metode ceramah merupakan cara mengajar seorang pendidik menyampaikan  materi dan seorang peserta didik sebagai pendengar. Metode ini kurang sesuai apabila peserta didik tidak mapu memahami materi yang disampaikan oleh pengajar.

  1. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan

  1. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah cara mengajar seorang pendidik yang memberikan permasalahan kepada peserta didik dengan membentuk kelompok-kelompok kecil guna memecahkan masalah yang diberikan oleh pengajar.

  1. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana peserta didik dan diberikan materi dan peserta didik mempelajari materi yang diberikan dan apabila pesrta didik tidak mampu memahami materi maka pserta didik menanyakan kepada pengajar dan pengajar menjelaskan kepada peserta didik apbila ad pertanyaan.

  1. Metode Latihan

Metode latihan adalah suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan – kebiasaan tertentu, disebut juga metode training. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan – kebiasaan yang baik, serta dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan.

  1. Metode Tugas

Metode tugas adalah suatu cara mengajar dimana seorang pengajar memberikan tugas berupa soal atau permasalahan kepada pesrta didik untuk dikerjakan.

  1. C.    Pembahasan Teknik

Beberapa teknik belajar mengajar antaralain :

  1. Teknik Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29), dengan tiga langkah yaitu;

a)      Pembentukan kelompok

b)      Diskusi masalah

c)      Tukar jawaban antar kelompok

Langkah – langkah tersebut kemudian dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi enam langkah sebagai brikut :

Langkah 1. Persiapan

Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Langkah 2. Pembentukan kelompok

Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.

Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan

Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru.

Langkah 4. Diskusi masalah

Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum.

Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban

Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.

Langkah 6. Memberi kesimpulan

Guru bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.

Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh  Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah :

  1. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
  2. Memperbaiki kehadiran
  3. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
  4. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
  5. Konflik antara pribadi berkurang
  6. Pemahaman yang lebih mendalam
  7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
  8. Hasil belajar lebih tinggi

 

  1. Teknik Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu teknik pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.

Teknik Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Guru yang menggunakan STAD mengajukan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu mengunakan presentasi verbal atau teks.

Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Teknik STAD :

  1. Persiapan materi dan penerapan siswa dalam kelompok

Sebelum menyajikan guru harus mempersiapkan lembar kegiatan dan lembar jawaban yang akan dipelajarai siswa dalam kelompok-kelomok kooperatif. Kemudian menetapkan siswa dalam kelompok heterogen dengan jumlah maksimal 4 – 6 orang, aturan heterogenitas dapat berdasarkan pada :

  • Kemampuan akademik (pandai, sedang dan rendah).

Yang didapat dari hasil akademik (skor awal) sebelumnya.Perlu diingat pembagian itu harus diseimbangkan sehingga setiap kelompok terdiri dari siswa dengan siswa dengan tingkat prestasi seimbang.

  • Jenis kelamin, latar belakang sosial, kesenangan bawaan/ sifat (pendiam dan aktif), dll.
  1. Penyajian Materi Pelajaran
  • Pendahuluan

Di sini perlu ditekankan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok dan menginformasikan hal yang penting untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya.

  • Pengembangan

Dilakukan pengembangan materi yang sesuai yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Di sini siswa belajar untuk memahami makna bukan hafalan. Pertanyaan – pertanyaan diberikan penjelasan tentang benar atau salah. Jika siswa telah memahami konsep maka dapat beralih kekonsep lain.

  • Praktek terkendali

Praktek terkendali dilakukan dalam menyajikan materi dengan cara menyuruh siswa mengerjakan soal, memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan masalah agar siswa selalu siap dan dalam memberikan tugas jangan menyita waktu lama.

  1. Kegiatan kelompok

Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari siswa.Isi dari LKS selain materi pelajaran juga digunakan untuk melatih kooperatif. Guru memberi bantuan dengan memperjelas perintah, mengulang konsep dan menjawab pertanyaan. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran.

  1. Evaluasi

Dilakukan selama 45 – 60 menit secara mandiri untuk menunjukkan apa yang  telah siswa pelajari selama bekerja dalam kelompok. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes,siswa tidak diperkenankan saling membantu. Hasil evaluasi digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan sebagai nilai perkembangan kelompok.

  1. Penghargaan kelompok

Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok. Dari hasil nilai perkembangan, maka penghargaan pada prestasi kelompok diberikan dalam tingkatan penghargaan seperti kelompok baik, hebat dan super.

  1. Perhitungan ulang skor awal dan pengubahan kelompok

Satu periode penilaian (3 – 4 minggu) dilakukan perhitungan ulang skor evaluasi sebagai skor awal siswa yang baru. Kemudian dilakukan perubahan kelompok agar siswa dapat bekerja dengan teman yang lain.

Keunggulan Teknik Pembelajaran Tipe STAD adalah adanya kerja sama dalam kelompok dan dalam menentukan keberhasilan kelompok ter tergantung keberhasilan individu,sehingga setiap anggota kelompok tidak bisa menggantungkan pada anggota yang lain. Pembelajaran kooperatif tipe STAD menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal.

 

  1. Pembelajaran Cooperative Learning Teknik Jigsaw

Pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 1997).

Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN ALAT PERAGA

 

Dalam pembelajaran materi teorema phytagoras, kelompok kami menggunakan, strategi, metode dan teknik sebagai berikut:

  1. Strategi
  • Ø Strategi Ekspositorik.

Dengan Strategi Ekspositorik bahan atau materi pelajaran diolah oleh guru. Siswa tinggal “terima jadi” dari guru. Dengan Strategi Ekspositorik guru yang mencari dan mengolah bahan pelajaran, yang kemudian menyampaikannya kepada siswa. Strategi Ekspositorik dapat digunakan di dalam mengajarkan berbagai materi pelajaran, kecuali yang sifatnya pemecahan masalah.

  • Strategi Tatap Muka. Akan lebih baik dengan menggunakan alat peraga.

Menggunakan strategi Ekspositorik karena materi berupa teorema phytagoras, yang rumusnya sudah jelas  . Penulisan teorema pythagoras

 

Dari gambar diatas diketahui a sebagai  sisi alas, b sebagai sisi tinggi, dan c sebagai sisi miring. Berdasarkan teorema Pythagoras dalam segitiga siku-siku tersebut diperoleh penghitungan sebagai berikut:

 

Dari uraian tersebut, penulisan teorema Pythagoras pada setiap sisi segitiga siku-siku dapat dituliskan sebagai berikut:

 

Dan memilih dengan strategi tatap muka, karena akan mudah dalam memberikan gambaran tentang pengertian, cara, dan mafaat yang dapat diperoleh dari materi yang disampaikan. Kelompok kamipun dalam strategi tatap muka melengkapi dengan menggunakan alat peraga dari sebuah kardus.

  1. Metode
  • Ø Metode Ceramah
  • Ø Metode Demonstrasi
  • Ø Metode Latihan
  • Ø Metode Tugas

Memilih metode ceramah, dapat dilakukan dengan Bercerita kehidupan sehari-hari sebagai awal penyampaian materi akan diawali dengan cerita untuk pengantar materi agar suasana lebih menarik.

Heslin sedang berjalan di atas lantai. Ia melangkah setiap langkah satu kotak lantai. Heslin menapakkan kakinya ke arah selatan sebanyak 8 kali, kemudian dilanjutkan kebarah timur sebanyak 6 kali. Berapa kali Heslin harus menapakkan kakinya jika ia mulai berjalan tanpa berbelok dari tempat semula ke tempat terakhir? Jika satu kotak mewakili 1 telapak kaki Heslin, maka perjalanan dapat dengan mudah digambarkan pada kertas berpetak seperti berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

Secara tidak langsung untuk mendapatkan jawaban maka perlu mendalami materi teorema phytagoras. Dalam mendalami materi pembuktian materi teorema phytagoras, dilanjut dengan metode demonstrasi, berikut :

Dengan menggunakan kardus yang dibuat segitiga siku-siku dengan panjang yang sisi yang berbeda akan. Segitiga tersebut akan diputar sebesar 900 kemudian akan terbetuk sebuah bagun datar yang baru yaitu persegi. Untuk membuktikan teorema phytagoras bisa juga dengan segitiga tersebut tiap sisi-sisinya akan dibuat persegi dengan panjang tiap sisipersegi  sama dengan panjang sisi segitiga. Sehingga dengan sangat mudah kita dsapst membuktikan teorema phytagoras tersebut dengan menggunakan bangun-bangun yang sudah dibuat dengan menggunakan segitiga dan persegi.

Langkah pertama buat 4 buah segitiga siku-siku yang sama lalu susun menjadi bentuk dibawah ini. Kemudian amati gambar yang dibuat dengan seksama maka akan diperoleh persgi dengan panjang sisi a + b. Dari gambar tersebut kita dapat membuktikan kebenaran terorema phytagoras.

 

 

 

Bujur sangkar dengan panjang sisi b+a

Perhatikan daerah diarsir kuning, sebuah belah ketupat dengan panjang sisi C

 

maka kita tahu bahwa luas belah ketupat ditambah luas 4 segitiga siku-siku sama dengan luas bujur sangkar

 

 

 

 

 

Setelah dirasa cukup materi peserta didik, metode latihan dan metode tugaspun dgunakan. Sebuah contoh dan penyelesaian sebelum menuju metode latihan:

Peserta didik akan diberi pertanyaan sampai sejauh mana materi yang telah disampaikan dan sejauh man pemahaman peserta didik menguasai materi yang telah disampaikan oleh pendidik.

Diketahui segitiga ABC siku-siku di B dengan AB = 6 cm dan BC = 8 cm. Hitunglah panjang AC.

Penyelesaian:

Dengan menggunakan teorema Pythagoras berlaku

AC2 = AB2 + BC2

= 62 + 82

= 36 + 64

= 100

AC =  = 10

Jadi, panjang AC = 10 cm.

 

Misalkan soal latihan seperti  dibawah ini:

  1. Diketahui ∆ PQR siku-siku di P dengan PQ = 12 cm dan QR = 13 cm.
  • Buatlah sketsa segitiga tersebut
  • Tentukan panjang PR.
  1. Pada ∆ ABC diketahui AB = 10 cm, BC = 24 cm, dan AC = 26 cm.
  • Tunjukkan bahwa ∆ABC siku-siku.
  • Di titik manakah ∆ABC siku-siku?
  1. Diketahui ∆ PQR siku-siku di Q dengan panjang PQ = QR = 25 cm. Hitunglah keliling dan luas ∆ PQR.
  2. Seorang anak menaikkan layang-layang dengan benang yang panjangnya 100 meter. Jarak anak di tanah dengan titik yang tepat berada di bawah layang-layang adalah 60 meter. Hitunglah ketinggian layang-layang!
  3. Sebuah kapal berlayar ke arah timur sejauh 150 km, kemudian ke arah selatan sejauh 200 km. Hitung jarak kapal sekarang dari tempat semula.

 

Setelah semua materi disampaikan dan semua peserta didik sudah memahami materi dengan baik maka pendidik memberikan tugas pribadi atau tugas kelompok.

Misalkan soal dan tugas yang diberikan sebagai berikut:

  1. Sebuah tangga yang panjangnya 12 m bersandar pada tembok yang tingginya 8 m. Jika kaki tangga terletak 6 m dari tembok maka hitunglah panjang bagian tangga yang tersisa di atas tembok.
  2. Seseorang menyeberangi sungai yang lebarnya 30 meter. Jika ia terbawa arus sejauh 16 meter, berapakah jarak yang ia tempuh pada saat menyeberangi sungai?
  3. Dua buah tiang berdampingan berjarak 24 m. Jika tinggi tiang masing-masing adalah 22 m dan 12 m, hitunglah panjang kawat penghubung antara ujung tiang tersebut.
  4. Sebidang sawah berbentuk persegi panjang berukuran (40 x 9) m. Sepanjang keliling dan kedua diagonalnya akan dibuat pagar dengan biaya Rp25.000,00 per meter. Hitunglah panjang pagar dan biaya pembuatan pagar.
  5. Sebuah kapal berlayar dari Pelabuhan A ke arah selatan menuju Pelabuhan B sejauh 250 km. Kemudian, dilanjutkan ke arah timur menuju Pelabuhan C sejauh 300 km.  Buatlah sketsa dari keterangan diatas. Berapakah jarak dari Pelabuhan A ke Pelabuhan D?

 

  1. Teknik

Kelompok kami mengunakan teknik Jigsaw. Langkah-langkah dalam penerapan teknik Jigsaw adalah sebagai berikut :

Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji). Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s