HAKIKAT STRATEGI PEMBELAJARAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Penyelenggaraan pendidikan nasional menghadapi berbagai permasalahan, yang salah satunya adalah masalah peningkatan kualitas. Pemerintah telah berupaya terus menerus untuk meningkatkan kualitas pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, baik pada penataan perundang-undangan, kurikulum, penyediaan sarana, peningkatan SDM, sampai kebijakan anggaran.

Komponen penting yang menentukan kualitas pendidikan adalah guru. UU RI No. 19 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen Bab I pasal 1 ayat 1 menegaskan, guru adalah pendidik profesional, dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah.

PERMENDIKNAS RI No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Dasar dan Menengah, 5c Sub 3), menyebutkan, bahwa mutu pembelajaran di sekolah/madrasah dapat dikembangkan dengan:

a)      Model pembelajaran yang mengacu pada Standar Proses;

b)      Melibatkan peserta didik secara aktif, demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong kreativitas, dan dialogis;

c)      Tujuan peserta didik mencapai pola pikir dan kebebasan berpikir;

d)     Pemahaman bahwa keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses belajar untuk mencapai pemahaman konsep, tidak terbatas pada materi yang diberikan oleh guru.

UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen BAB IV pasal 10 menyebutkan kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola peserta didik. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa, serta menjadi teladan peserta didik. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

B.     Tujuan Mata Kuliah

Secara spesifik Tujuan Pembelajaran Mata Kuliah Strategi Pembelajaran agar mahasiswa memiliki kemampuan merefleksikan konsep Strategi Pembelajaran inovatif baik secara lisan maupun tulisan, dan dapat mengimplementasikannya ke dalam proses pembelajaran sesuai dengan bidang ilmunya masing-masing.

BAB II

HAKIKAT STRATEGI PEMBELAJARAN

A.    Hakikat Belajar

  1. Pengertian Belajar

Menurut Toeti Soekamto,dkk (1992) mengutip pendapat Margon dan kawan-kawan, belajar dapat didefinisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relative tetap dan terjadi sebagai hasil latihan dan pengalaman. Dalam definisi tersebut menampakkan tiga aspek penting dalam sebuah proses pengajaran, yaitu:

–          Pertama: Belajar adalah suatu aktivitas latihan dan kegiatan anak untuk mendapatkan pengalaman.

–          Kedua: Guru memposisikan diri sebagai dinamisator yang harus memfasilitasi peserta didik untuk dapat beraktifitas guna mendapatkan pengalaman tertuntu.

–          Ketiga: Hasil dari kegiatan belajar harus kelihatan secara nyata, yaitu adanya perubahan tingkah laku secara permanen.

Prinsip-prinsip belajar berarti suatu kebenaran teori yang harus diikuti dan dijadikan pegangan bagi guru ketika melakukan pengelolaan pembelajaran. Inti dari prinsip-prinsip belajar tersebut adalah:

  1. Apapun yang dipelajari siswa, dialah yang harus belajar, bukan orang lain.
  2. Setiap siswa akan belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya.
  3. Seorang siswa akan dapat belajar lebih baik apabila mendapat penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajarnya.
  4. Penguasaan yang sempurna dari tiap langkah yang dilakukan siswa akan membuat proses belajar lebih berarti.
  5. Seorang siswa akan lebih meningkat motivasinya untuk belajar apabila ia diberi tanggung jawab serta kepercayaan penuh atas belajarnya.

Prinsip-prinsip tersebut memberikan gambaran bahwa belajar pada hakikatnya membutuhkan kesadaran akan kemandirian untuk berbuat, dengan penuh tanggung jawab.

Pandangan lain tentang prinsip-prinsip belajar oleh Dimiyati (1994), yaitu:

  1. Perhatian dan Motivasi.
  2. Keaktifan.
  3. Keterlibatan langsung.
  4. Pengulangan.
  5. Tantangan.
  6. Balikan dan Penguatan.
  7. Perbedaan Individual.
  1. Faktor-Faktor Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi aktifitas belajar sangat kompleks sifatnya, tetapi dapat dipolakan ke dalam dua jenis, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah berbagai kondisi dinamis baik fisik maupun psikis yang berasal dari dalam diri individu peserta didik sendiri dan faktor kelelahan.

Sedang faktor eksternal adalah segala sesuatu yang berada di luar kondisi peserta didik dengan berbagai karakteristiknya. Yang termasuk faktor eksternal diantaranya: faktor sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Faktor-Faktor Belajar yang Mempengaruhi Proses Belajar

Faktor Internal

Faktor Eksternal

–        Jasmani: Kesehatan, cacat tubuh. –        Keluarga: cara otang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, ekonomi rumah tangga, perhatian, orang tua, latar belakang kebudayaan.
–          Kelelahan: kelelahan fisik, kelelahan psikis. –          Sekolah: metode mengajar, kurikulum, relasi guru-siswa, relasi siswa-siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah.
–          Rohani: Intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif. –          Masyarakat: kegiatan siswa di masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat.

B.     Hakikat Mengajar

  1. Pengertian

Teori-teori mengajar yang dirumuskan akan mengalami perkembangan dari masa ke masa. Terdapat paling tidak ada dua sudut pandang, yaitu pandangan tradisional dan pandangan modern.

Pandangan tradisional memberi makna mengajar, adalah menanamkan pengetahuan pada anak. Adapun pandangan modern mendefinisikan mengajar adalah: teaching is guidance of learning atau bimbingan kepada siswa dalam proses belajar.

 

  1. Komponen-Komponen Mengajar dan Pembelajaran

Mengajar pada hakikatnya adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik, atau suatu usaha yang dilakukan guru agar terjadi aktifitas peserta didik untuk bisa berubah menjadi individu yang lebih sempurna.

Komponen pengajaran adalah segala sesuatu atau unsur-unsur, yang secara langsung memang diperlukan akan keberadaannya. Tanpa keberadaan unsur-unsur tersebut proses pengajaran menjadi terhambat.

Unsur-unsur yang dimaksud adalah:

a.      Tujuan

Tujuan merupakan keinginan yang akan dicapai melalui suatu kegiatan tertentu. Tujuan pembelajaran difokuskan pada penguasaan kompetensi tertentu berdasarkan tahapan-tahapan perkembangan peserta didik (Mulyasa, 2002).

b.      Bahan Pelajaran

Bahan ajar (course material) adalah: informasi yang disusun secara sistematis dengan metode tertentu dalam suatu bidang ilmu, disajikan dan dikemas dalam bentuk media cetak atau non cetak yang dijadikan sebagai sumber-sumber informasi dalam pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran.

Karakteristik materi pelajaran:

–          Seimbang antara keluasan dan kedalaman waktu yang tersedia.

–          Sistematis dan kontekstual.

–          Semaksimal mungkin dapat mengakomodasi partisipasi aktif siswa.

–          Dapat menarik manfaat optimal dari perkembangan dan kemajuan ilmu, teknologi dan seni.

–          Sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.

–          Sesuai tujuan dan kompetensi yang diharapkan.

c.       Kegiatan Belajar Mengajar

Dalam kegiatan belajar mengajar terjadi suatu proses, yaitu kejadian berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain, dalam arti berubahnya peserta didik dari belum terdidik menjadi terdidik, dari belum menguasai kompetensi tertentu menjadi menguasai kompetensi tertentu.

d.      Metode

Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Syaiful Bahri, 2002). Tipe-tipe belajar peserta didik:

–          Tipe belajar visual yaitu suatu perilaku belajar di mana peserta didik akan bisa menangkap materi pembelajaran apabila fungsi penglihatannya dapat berperan secara maksimal.

–          Tipe belajar motorik yaitu perilaku belajar yang mengandalkan gerakan-gerakan pisik (motor skill).

–          Tipe belajar auditif yaitu perilaku belajar yang mengandalkan pendengaran.

e.       Alat

Alat pelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran. Syaiful Bahri (2002) mengklasifikasikan alat menjadi dua, yaitu alat dan alat bantu. Yang termasuk alat seperti: perintah, larangan, dan sebagainya, sedang alat Bantu seperti: globe, papan tulis, slide, VCD, dan sebagainya.

Karakteristik alat pembelajaran:

–          mampu mengubah suasana belajar menjadi aktif mencari informasi melalui berbagai sumber;

–          menfasilitasi interaksi antar siswa dan guru serta siswa dengan ahli lain;

–          memperkaya pengalaman belajar siswa;

–          dapat menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

f.        Sumber Belajar

Mulyasa (2002:48) merumuskan makna sumber belajar, adalah sebagai segala sesuatu yang dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam memperoleh sejumlah informasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan, dalam proses belajar mengajar.

Dari segi kemanfaatannya, sumber belajar dapat digolongkan menjadi dua yaitu:

1)      sumber belajar yang didesain secara khusus untuk mempermudah peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar secara formal dan punya tujuan tertentu.

2)      Sumber belajar yang dimanfaatkan, yaitu sumber-sumber belajar yang tidak secara khusus didesain untuk keperluan pembelajaran tetapi tidak dapat ditemukan, diterapkan dan digunakan untuk kepentingan pembelajaran (AECT, 1986:73).

g.      Evaluasi

Suharsini Arikunto (1999) memberikan pemaknaan tiga istilah evaluasi, yaitu:

–          Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif.

–          Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif.

–          Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah di atas, yakni mengukur dan menilai.

Evaluasi pembelajaran yaitu suatu proses untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah menguasai jenis kompetensi tertentu setelah mengikuti program pembelajaran. Fungsi penilaian menurut Mulyasa (2002), yaitu untuk:

–          mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik;

–          mendiagnosa kesulitan belajar;

–          memberikan umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran;

–          penentuan kenaikan kelas.

Dimyati (1994:210) mengemukakan sasaran evaluasi adalah aspek-aspek yang terkandung dalam proses pembelajaran, yang meliputi:

1)      Tujuan Pembelajaran

Hal-hal yang perlu dievaluasi dari tujuan adalah: penjabaran tujuan, yang merupakan hirarki tujuan dari tingkat yang paling tinggi ke tingkat yang palig rendah; rumusan tujuan, dalam arti aspek-aspek yang harus ada pada tiap jenjang tujuan, semakin rendah jenjang tujuan memerlukan rumusan yang semakin spesifik; dan unsure-unsur tujuan, yaitu perilaku yang diharapkan dapat dicapai, criteria pencapaian yang ditetapkan, dan kondisi untuk membentuk perilaku yang diharapkan.

2)      Unsur Dinamis Pembelajaran

Unsur dinamis pembelajaran adalah sumber belajar atau komponen instruksional yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

3)      Pelaksanaan Pembelajaran

Evaluasi pelaksanaan pembelajaran mencakup aspek-aspek:

a)      Kesesuaian pesan dengan tujuan pengajaran

b)      Kesesuaian sekuensi penyajian pesan kepada siswa

c)      Kesesuaian bahan dan alat dengan pesan dan tujuan pengajaran

d)     Kemampuan guru dalam menggunakan alat dan bahan pembelajaran

e)      Kemampuan guru menggunakan teknik pembelajaran

f)       Kesesuaian teknik pembelajaran dengan pesan dan tujuan pengajaran

g)      Interaksi siswa dengan siswa lain

h)      Interaksi guru dengan siswa (Dimyati, 1994:212)

4)      Kurikulum

Kurikulum merupakan perangkat pembelajaran yang tertulis, yang di dalamnya termasuk silabus. Evaluasi kurikulum termasuk evaluasi silabus.

C.    Pengertian Strategi Pembelajaran

Strategi dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru-anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan (Syaiful Bahri, 2002:5).

Beberapa istilah yang kadang dianggap memiliki makna yang sama diantaranya:

Pendekatan     :   cara umum memandang objek kajian

Strategi            :   segala ilmu/kiat dalam memanfaatkan sumber untuk    mencapai tujuan

Metode            :   cara umum yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran

Teknik             :   ragam khas dalam penerapan metode tertentu

Prosedur          :   seperangkat langkah kegiatan dalam mencapai tujuan pembelajaran

BAB III

KOMPONEN STRATEGI PEMBELAJARAN

 

 

  1. A.      Pengertian

Komponen adalah unsur yang harus ada dalam strategi pembelajaran. Apabila unsur yang dimaksud tidak ada maka strategi pembelajaran tidak dapat dilakukan secara maksimal.

B.       Komponen stratyegi pembelajaran

Beberapa komponen strategi  belajar  mengajar diantaranya:

1.      Tujuan

Tujuan yang dimaksud disini adalah berupa tujuan pembelajaran yang merupakan komponen strategi pembelajaran yang dapat berfungsi untuk memberikan kemudahan peserta didik dalam mencapai kompetensi.

2.         Guru

Guru merupakan factor utama dalam pemilihan menggunakan strategi pembelajaran. Sehingga selain harus mempunyai kemapuan pedagogic seorang guru harus juga memiliki 7 faktor utama yaitu:

–          Sikap terbuka

–          Penguasaan bahan

–          Penguasaan kelas

–          Cara berbicara

–          Kepribadian

–          Cara menciptakan suasana kelas

–          Memperhatikan prinsip individualitas.

3.         Peserta didik

Peserta didik merupakan subyek belajar yang digunakan sebagai pusat segala kegiatan pembelajaran. Setiap peserta didik memiliki perbedaan – perbedaan kmpleks dalam konteks KBK. Diantaranya:

–          Perbedaan kebutuhan

–          Perbedaan pertumbuhan an perkembangan

–          Perbedaan kreativitas

–          Perbedaan kecerdasan

–          Perbedaan cacat fisik

4.         Materi

Sebelum menetukan strategi pembelajaran guru harus mengetahui jenis materi terlebih dahulu.

Materi dilihat dari jenisnya ada 6 yaitu:

No

Jenis materi

Pengertian

Contoh

1. konsep Suatu ide gagasan/suatu pengertian yang umum Sumerkekayaan alam  yang dapat diperbaharui (klasifkasi tanaman menurut jenisnya).
2. Prinsip Suatu kebenran dasar sebagai titik tolak untuk berpikir atau suatu petunjuk untuk berbuat / melakukan sesuatu Penerapan dalil, rumus, hokum – ukum tertentu (cara menghitung luas bangun segitiga, rumus matematika
3 Fakta Sesutau yang telah terjadi atau yang telah dikerjakan / dialami Sesuatu yang konkrit (sejarah, fosil, nama – nama anggota tubuh)
4 Proses Serangkaian perubahan atau gerakan – geakan. Terjadinya perubahan berdasarkan tahapan – tahapan (kegiatan produksi, perubahan warna karena campuran obat – obatan)
5 Nilai Suatu pola, ukuran, atau tipe atau model. Kebenaramn yang bersifat umum, tentang baik dan buruk (hokum jual beli, hokum perbaikan.)
6 keterampilan Kemapuan berbuat sesuatu dengan baik Aktifitas jasmani (menulis, berbicara, melihat)Aktifitas rohani (membandingkan, menganalisis, menyimpilkan)

5.         Media

Merupakan alat, metode, dan tehnik yang digunakan dalam rengka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses  pendidikna dan pengajaran di sekolah.

Menurut Prasertyio Irwan menyebutkan bahwa media adalah kata jamak medium (bahasa latin) yang artinya perantara (between). Makna umumnya adalah apa saja yang dapat menyalurkan inmformasi kepenerima informasi.

Kedudukan Media :

 

 

Keterangan: ketika sumber informasi, katakanlah guru, akan menyampaikan informasi katakanlah materi pembelajaran, kapada penerima informasi, katakanlah perserta didik, proses penyampaian informasi akan dilakukan denga menggunakan strategi tertentu dan agar informasi bias sampai ke penerima dengan strategi yang dipilih, masih harus dibantu leh jasa media. Dengan demikian strategi dan media merupakan dua komponen yang saling mendukung.

Suatu media dapat dikatakan baik apabila:

Visible          :            mudah dilihat

Interesting    : menarik

Simple          :            sederhana

Useful           :            isinya berguna atau bermanfaat

Accurate       :            benar (dapat dipertangguingjawabkan)

Legitimate    :            masuk akal / sah

Structured    :            terstrukstur / tersusun dengan baik.

6.         Lingkungan

Salah satu aspek tang perlu diperhatiakn pada saat seorang guru memilih strategi pembelajaran, harus diikuti dengan penyediaan lingkuang pendukung.

Misal : pada pembelajaran dengan strategi konstektual learning,maka harus dipilih “sesuai konteks” seperti apa yang harus dipersiapkan.

BAB IV

FAKTOR  STRATEGI PEMBELAJARAN

 

A.      Pengertian

Faktor dalam strategi pembelajaran adalah hal – hal yang dapat mempengaruhi terahadap implementasi/penerapan strategi dalam proses pembelajaran. Mempengaruhi artinya bias bersifat mendukung dan bias bersifat menghambat.

B.       Faktor  Dalam Strategi Pembelajaran

Faktor dalam strategi pembelajaran adalah

1.         Materi

Penetapan materi pelajaran berfungsi untuk menbcapai kompetensi belajar, oleh karena itu materi harus materi harus memnenuhi criteria tertentu, diantaranya sebagai berikut:

  1. Sesuai dengan rumusan kompetensi yang diminta
  2. Terjabar sesuai dengan spesifikasi tujuan pembelajaran
  3. Relevan engan kebutuhan siswa
  4. Kesesuaian dengan kondisi masyarakat
  5. Mengandung segi – segi etik
  6. Tersusun dalam uutan yang sistematis dan logis.
  7. Memberikan peluang untuk dikembangkan dari berbagai sumber.

2.         Media

Pemilihan media pembelajaran juga harus memenui criteria, diantaranya:

  1. Relevansi dengan tujuan pembelajaran
  2. Tingkat kelayakan media
  3. Tingkat kemudahan dalam pengadaanya.

3.         Kinerja Guru

Kinerja guru sebagai factor Strategi pembelajaran maksudnya adalah: seberapa besar kemampuan guru untuk menunjukkan kualitas pengeloaan pembelajaran secara rill di kelas.  Kualitas kinerja guru dapat di dinilai dari komponen:

a.        Persiapan Pembelajaran

Aspek

Indikator

  1. Merumuskan Indikator keberhasilan
Kejelasan; kelengkapan cakupan; urutan kompetensi; kesesuaian dengan kompetensi dasar, pengakomodasian Soft Skills / generie skill
  1. Pemilihan Materi pembelajaran
Kesesuaian dengan kompetensi, kesesuaian dengan karakteristik siswa; keseuaian dengan urutan kecakapan hidup (life skills), kesesuaian dengan lingkungan masyarakat.
  1. Pengorganisasian materi
Kerukunan dan sistematika materi; kesesuaian materi dengan; kesesuaian dengan metode; kesesuaian dengan karakteristik siswa; kontekstual.
  1. Pemilihan sumber Pembelajaran
Kelengkapan pentahapan pembelajaran; kejelasan langkah pembelajaran tiap tahap; kesesuaian alokasi waktu dengan tahapan pembelajaran; kesesuaian jenis kegiatan pembelajaran dengan kompetensi; pengakomodasian dengan perbedaan individu.
  1. Skenario Pembelajaran
Kesesuaian dengan kompetensi;kejelasan prosedur penilian; kelengkapan  pertahapan pembelajaran; kejelasan langkah pembelajaran tiap tahap; kesesuaian alokasi waktu dengan tahapan pembelajaran dengan kompetensi; pengakomodasian dengan perbedaan individu.
  1. Penilian
Kesesuaian dengan kompetensi; kejelasan, prosesdur penilian;kelengkapan instrument tes; kualitas intrumen; kesesuaian dengan karakteristik siswa; dan keberagaman teknik penilian.
  1. Penggunaan Bahasa Tulus
Ketepatan ejaan, ketepatan pilihan kata atau pilihan diksi, dan kebakuan struktur kalimat.

b.        Komponen Melaksanakan Pembelajaran

  1. Prapembelajaran
Memeriksa kesiapan ruang, alat pembelajaran/ media dan memeriksa kesiapan siswa
  1. Membuka pebelajaran
Melakukan apersepsi, menyampaikan kompetensi yang akan dicapai,menyampaikan rencana kegiatan.
  1. Kegiatan Inti pembelajaran
Penguasaan guru terhadap materi, pendekatan/ strategi, pemanfaatan media/sumber belajar, keterlibatan siswa, penilian proses dan hasil belajar, penggunaan bahasa.
  1. Penutup
Rangkuman pembelajaran, pelaksanaan tindak lanjut

4.         Sitem Pembelajaran

Berbicara tentang system pembelajaran tidak terlepas dari masalah pola-pola pembelajaran yang dikembangkan. Pola pembelajaran berkaitan dengan penetapan peran unsur-unsur dalam kegiatan pembelajaran. Unsur pembelajaran yang dimksud paling tidak terdiri dari: tujuan, guru, peserta didik dan sumber belajar lainnya. Dlam pandangan tradisional guru telah ditempatkan pada posisi sentral dan bahkan sebagai satu-satunya sumber belajar. System pembelajaran pola tradisional tersebut telah mengabaikan peran unsur yang lain, dan strategi pembelajaran yang dipilih tentu saja bersifat teacher centered. Sistem pembejan pola tradisional dapat digambarkan sebagai berikut :

 Bagan : Sistem Pembelajaran Tradisional

 

Pada Pembelajaran yang lebih maju, telah memperhitungkan keterlibatan unsur pembelajaran secara terpadu, di mana peran guru telah dibagi dengan alat dan media, sebagaimana contoh pola berikut:

Gambar : Bagan Peran Guru dan Media

Posisi unsur-unsur dalam proses pembelajaran. Dlaam kegiatan pembelaaran peserta didik dapat memperoleh informs dari media, dan juga dpat mencari informasi melalui guru. Sementara itu guru sendiri dalam menyampaikan informasi (pesan) masih melibatkan unsur alat (Audio dan Visual).

Pola pembelajaran yang lebih modern telah mengembangkan system kemandirian dalam belajar. Pola pembelajran modern dirancang dengan memaksimalkan peran media sebagai sumber informasi, dan memaksimalkan keterlibatan/aktivitas peserta didik. Pola pembelajarannya dapat digambarkan sebagai berikut :

 

Gambar : Pola Pembelajaran dengan Media

 

Dari ketiga pola pembelajaran tersebut dapat digambarkan menjadi satu system pembelajaran, yaitu:

  1. 5.         Iklim Pembelajaran

Iklim pembelajaran sebagai salah satu factor strategi pembelajaran, maksudnya adalah bagaimana situasi dan kebiasaan belajar yang berkembang di kelas. Situasi tersebut tidak terlepas dari peran guru dan peserta didik.

Indicator iklim pembelajaran yang baik adalah (1) kesadaran guru untuk mengembangkan proses pembelajaran yang demokratis. (2) semangat guru untuk memotivasi munculnya semangat keinginan siswa secara maksimal (3) kreatifitas guru dalam mewujudkan system PAKEM (Pebelajaran Aktip Kreatip Efektif Menyenangkan).

Dalam rangka penciptaan proses pembelajaran yang menyenangkan, peran guru juga dapat ditampilkan dalam bentuk (1) Idola : yakni kesiapan guru secara pisik dan mental untuk bisa tampil di depan kelas dengan penuh antusias dan kreatif. (2) keteladanan dengan tampilan aklak yang simpantik yang dilandasi oleh sikap istiqomah (konsisten) dalam mempresentasikan nilai-nilai religious. (3) Demokratis yang ditunjukkan dengan sikap untuk mau memahami dan mengakui peran peserta didik dalam mengolah pesan. (4) motivasi dengan bentuk member dorongan untuk belajar secara maksimal. (5) Memberi hadiah dengan member nilai angka keberhasilan belajar. (6) peserta didik baik secara individual maupun kelompok. (8) menggunakan metode yang variatip

Dari segi siswa perlu pembiasaan pembinaan belajar yang bisa dikembangkan yaitu (1) berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan (2) mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain (3) tolong menolong sesame teman (4) rapi dalqm bertindak berpaian dan berkerja.

6.         Kompetensi Peserta Didik

Peserta didik sebagai factor strategi pembelajaran harus dilihat kompetensinya secara obyektif. Mengapa kompetensi peserta didik termasuk factor strategi? Karena pemilihan dan penerapan strategi sesungguhnya untuk mempermudah peserta didik dalam mengolah informasi. Oleh sebab itu, maka kemampuan  peserta didik menjadi factor yang harus diperhitungkan. Beberapa indicator, yang dapat disebyt juga dengan istilah learner characteristics, yang dapat digunakan untuk meramalkan kompetensi peserta didik dapat diketahui dengan menjawab pertanyaan, di antaranya :

  • Apa latar belakang pendidikan (sekolah yang pernah di tempuh) ?
  • Bagaimana nilai rata-rata yang pernah dicapai tiap sekolah /kursus/latihan yang pernah dialami?
  • Apakah siswa sudah mengetahui serba sedikit latar belakang pokok bahasan yang akan dipelajari ?
  • Apakah tingkat itelejensi siswa tinggi, sedang, atau rendah?
  • Apakah siswa mampu membaca cepat?
  • Apa saja yang dikuasai oleh siswa?
  • Bagaimana motivasi belajar siswa ?
  • Apakah yang menjadi harapan siswa setelah mempelajari pokok bahasan tersebut?
  • Bagaimana aspirasi kebudayaan dan vokasional siswa ?

 

Kompetensi social siswa mencakup beberapa hal, diantaranya :

  1. Umur
  2. Kematangan
  3. Perhatian (minat)
  4. Siswa teladan dalam satu kelas
  5. Latar belakang ekonomi siswa
  6. Hubungan antar siswa

BAB V

JENIS-JENIS STRATEGI PEMBELAJARAN

1.      Strategi Pembelajaran Ekspositori

Model pembelajaran ekspositori merupakan model belajar mengajar yang berpusat pada guru. Sedangkan mengajar secara konvensional adalah contoh menggunakan pendekatan ekspositori. Metode yang dekat dengan ekspositori adalah metode ceramah dan metode demonstrasi. Metode ekspositori ini akan menjadi metode yang efektif dan efisien yang dapat menyebabkan siswa belajar secara bermakna bila dipergunakan sesuai situasi dan kondisi. Adapun hasil belajar yang dievaluasi adalah luas dan jumlah pengetahuan ketrampilan dan nilai yang dikuasai siswa.

2.      Strategi Pendekatan Pembelajaran Heuristik

Pendekatan heuristic ini guru tidak secara langsung menyatakan atau memberitahukan konsep atau generalisasi melainkan menuntut atau mengarahkan saja sehingga akhirnya dapat menemukan sendiri. Pendekatan yang tergolong heuristic adalah

  1. Metode Penemuan (Discovery)
  2. Metode Inkuiri

3.      Strategi Pembelajaran Cooperative

a.      Pengertian Pembelajaran Cooperative Learning

Adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam struktur kerjasama yang teratur.

b.      Mengapa Model Pembelajaran Cooperative Learning di Laksanakan

Kehaormonisan dapat terwujud saling terbuka mau mendengarkan dan saling memahami kekurangan serta kelebihan orang lain.

c.       Karakteristik Pendekatan Cooperative Learning

Individual Accountability, social skills, positive interdependence, group processing.

d.      Langkah-langkah Model Pembelajaran Cooperative Learning

5.      Strategi Pembelajaran Dengan Pendekatan Kontekstual

a.      Pengertian Pendekatan Kontekstual

Adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.

CTL adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan para siswa melihat makna di dalam materi akademik dengan menghubungkan dengan konteks kehidupan sehari-hari.

b.      Landasan Filosofis Model Pembelajaran Kontekstual

Landasan filosofi CTL adalah kontrukvimisme yaitu belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya menghafal. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksi pengetahuan di benak mereka sendiri. Melalui strategi CTL siswa di harapkan belajar mengalami bukan menghafal.

c.       Komponen Model Pembelajaran CTL

Komponen utama pembelajaran berbasis CTL yaitu

–          Konstruktifisme (construkvism)

–          Bertanya (questioning)

–          Menemukan (inquiry)

–          Masyarakat belajar (learning community)

–          Pemodelan (modeling)

–          Penilaian sebenarnya (authentic assement)

Kontruktivisme adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.

  1. Langkah-langkah Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas

Ciri kelas yang menggunakan kontekstual

  1. Pengalaman nyata
  2. Kerja sama saling menunjang
  3. Gembira, belajar dengan bergairah
  4. Pembelajaran terintregasi
  5. Menggunakan berbagai sumber
  6. Siswa aktif dan kritis
  7.  Menyenangkan tidak membosankan
  8. Sharing dengan teman
  9. Guru kreatif

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

STRATEGI ACTIVE  LEARNING

 

 

1.      Mengapa Perlu Aktif Belajar.

Belajar aktif merupakan fungsi interaksi antara individu dan situasi disekitarnnya yang diarahkan oleh tujuan belajar. Interaksi yang terus menerus menimbulkan pengalaman dan keinginan untuk memahami sesuatu yang baru, yang belum dipahami, atau yang belum dialami. Belajar aktif ditandai bukan hanya melalui keaktifan Mahasiswa yang fisik, namun juga keaktifan mental. Justu keaktifan mental merupakan hal yang sangat penting.

Tiga alasan mengapa Belajar Aktif perlu diterapkan:

  1. Karakteristik anak.
  2. Hakekat belajar.
  3. Karakteristik lulusan yang dikehendaki.

2.      Hakekat Belajar Aktif

(CBSA) adalah cara pandang yang mengagap belajar sebagai kegiatan membangun makna/pengertian terhadap pengalaman dan informasi,yang dilakukan oleh si pembelajar, bukan oleh si pengajar, mengajar sebagai kegiatan menciptakan suasana yang mengembangkan inisiatif dan tanggung jawab si pembelajar sehingga keinginan terus untuk belajar selama hidupnya.

3.      Bagaimana Suasana Belajar Aktif

Suasana belajar aktif adalah suasana belajar-mengajar yang membuat  siswa melakukan beberapa hal berikut ini:

a.     Pengalaman

Pengalaman langsung akan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya melalui mendengarkan.

b.     Interaksi

Belajar meningkat kualitas bila berlangsung dalam Suasana interaksi dengan orang lain: berdiskusi, saling bertanya dan mempertanyakan, dan atau saling menjelaskan.

c.      Komunikasi

Pengungkapan pikiran dan perasaan baik dalam jangka mengemukakan sendiri maupun menilai gagasan sendiri maupun menilai gagasan orang lain, akan menatapkan pemahaman seseorang tentang apa yang sedang dipikirkan  atau dipelajari.

d.     Refleksi

Refleksi dapat terjadi akibat dari interaksi dan komunikasi. Sesuai dengan pengertian mengajar yaitu” Menciptakan Suasana yang mengembangkan inisiatif dan Tanggung Jawab Belajar Siswa”.

4.      Strategi Mengaktifkan Kelas

  1. Learning Starts with a Question
  2. Every Is Teacher Here
  3. The Power
  4. Information Search
  5. Snowballing
  6. Debat dan Efektif
  7. Tim Quiz
  8. Tim Pendengar
  9. Giving Question dan Getting Answer
  10. Learning Contracts
  11. Synergetic Teaching
  12. Point Counterpoint
  13. Role Play (Bermain Play)

 

 

BAB VII

STRATEGI PEMBELAJARAN

QUANTUM TEACHING DAN QUANTUM LERNING

 

 

1.      Quantum Teaching

a.      Latar Belakang Pembelajaran Quantum.

Quantum merupakan falsafah dan metodologi pembelajaran yang bersifat umum, tidak secara khusus diperuntukkan bagi pembelajaran di sekolah.

b.      Dasar Teori Pembelajar Quantum.

Pembelajaran quantum sesungguhnya merupakan ramuan atau rakitan dari berbagai teori atau pandangan psikologi kognitif dan pemrogaman Neurology/neurolinguistik yang jauh sebelumnya sudah ada.

c.       Karakteristik Umum

Beberapa karakteristik umum yang tampak membentuk pembelajaran quantum sebagai berikut:

1)      Pembelajaran quantum berpangkal pada psikologi kognitif.

2)      Pembelajaran quantum lebih bersifat humanities.

3)      Pembelajaran quantum lebih bersifat konstruktif(tis).

4)      Pembelajaran quantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna.

5)      Pembelajaran quantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.

6)      Pembelajaran quantum sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran.

7)      Pembelajaran quantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.

8)      Pembelajaran quantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran

9)      Pembelajaran quantum memusatkan perhatian dan pembentukan keterampilan akademis.

10)  Pembelajaran quantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran.

11)  Pembelajaran quantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan.

12)   Pembelajaran quantum mengintregasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam  proses pembelajaran.

d.      Prinsip utama Pembelajaran Quantum

Prinsip dapat berarti :

(1) aturan aksi atau perbuatan yang diterima atau dikenal

(2) sebuah hokum, aksioma, atau doktrin fundamental.

Ketiga prinsip utama yang dimaksud sebagai berikut:

1)      Prinsip utama pembelajaran quantum berbunyi: Bawalah Dunia Mereka (Pembelajaran) ke dalam Dunia Kita (Pengajar) dan Antarkan Dunia Kita (Pengajar) ke Dalam Dunia Mereka (pembelajaran).

2)      Dalam pembelajaran quantum berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupakan permainan orchestra simfoni.

3)      Dalam pembelajaran quantum juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran harus berdampak bagi terbentuknya keunggulan.

2.      Quantum Learning

a.      Hakekat Quantum Learning

Quantum Learning adalah seperangkat metode dan falsafah belajar yan terbukti efektif disekolah dan bisnis bekerja untuk semua tipe orang dan segala usia.

Prinsip quantum learning adalh bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapunmemberikan sugesti positif maupun negatif

b.      Beberapa petunjuk Dalam Quantum Learning.

  • Melihat sekilas.
  • “Inilah saatnya”.
  • Tempat belajar.
  • Gunakan music.
  • Istirahat.
  • Rencanakan sebelumnya.
  • Berdiri dan duduk dengan Tegap.
  • Kegagalan adalah umpan balik.
  • Sikap.

BAB VIII

MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS AWAL

 

1.      Latar Belakang Pembelajaran Tematik

Peserta didik yang berada  pada Sekolah Dasar IQ,EQ,dan SQ tumbuh berkembang luar biasa. Pelaksanan kegiatan pembelajarannya dilakukan secara terpisah sehingga kurang mengembangkan anak untuk berfikir holistis dan membuat kesulitan bagi peserta didik. Dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan maka pembelajaran pada kelas awal Sekolah Dasar lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik.

2.      Tujuan

Tujuan penyusunan panduan pengembangan silabus tematik pada kelas awal Sekolah Dasar antara lain :

  • Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang pembelajaran tematik
  • Memberikan pemahaman kepada guru tentang pembelajaran tematik yang sesuai dengan perkembangan peserta didik kelas awal Sekolah Dasar
  • Memberikan keterampilan kepada guru dalm penyusunan perencanaan melaksanakan dan melakukan penilaian dalm pembelajaran tematik
  • Memberi wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran pelaksanan pembelajaran tematik

3.      Ruang Lingkup

Ruang Lingkup pengembangan pembelajaran tematik meliputi Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, Pendidikan Kewarganegaraan, IPS, Seni Budaya, Keterampilan, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

4.      Kerangka Berfikir

  1. Tahap Perkembangan Anak Usia Kelas Awal SD

Anak pada rentangan usia dini seluruh potensi yang dimiiki perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Karakteristik pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya.

  1. Cara Anak Belajar

Menurut Pieget (1950) setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut skemata (system konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap obyek yang ada dalam lingkungannya).

Kecenderungan belajar anak usian sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu

  • Konkret

Konkret mengandung makna proses belajar dari hal-hal kongret dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.

  • Integratif

Mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, sehingga cara berfikir anak yang deduktif.

  • Hierarkis

Cara belajar anak secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal kompleks.

  1. Belajar dan Pembelajaran Bermakna

Pembelajaran adalah suatu proses interaksi antara anak dengan anak, sumber belajar dan pendidik. Belajar Bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Dengan kata lain belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indra dari pada hanya mendengarkan guru menjelaskan.

5.      Pengertian Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran menggunakan tema dalam mengkaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna pada siswa.

6.      Landasan Pembelajaran Tematik

a.      landasan filosofis

Dipengaruhi 3 aliran filsafat yaitu progresivisme (kreativitas), konstruktivisme (pengalaman), humanisme (potensi dan motivasi).

b.      Landasan Psikologi

Berkaitan dengan pembelajaran tematik berkaitan dengan psikologo pembelajaran pesrtadidik dan psikologi belajar. Melalui pembelajaran tematik di harapkan adanya perubahan perilaku siswa menuju kedewasaan baik fisik mental moral maupun sosial.

c.       Landasan Yuridis

Pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran. Landasan yuridis berupa UU No.23 th 2002 tentang hak memperoleh pendidikan dan pengajaran. UU No. 20 th 2003 tentang system pendidikan nasional menyatakan peserta didik berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai bakat minat dan kemampuannya.

7.      Karakteristik Pembelajaran Tematik

  1. Berpusat pada siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru sebagai fasilitator yaitu member kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktifitas belajar.
  2. Memberikan pengalaman langsung, diharapkan siswa dapat memahami yang lebih memahami sesuatu yang nyata (konkrit) pada hal-hal yang lebih abstrak.
  3. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas

Focus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema yang paling dekat yang berkaitan denga kehidupan siswa.

  1. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran

Agar siswa mampu memahami konsep secara utuh. Dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

  1. Bersifat fleksibel

Pembelajaran tematik bersifat luwes atau fleksibel, mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.

  1. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.

Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

  1. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.

8.      Rambu-rambu

  1. Tidak semua mata pelajaran dapat dipadukan.
  2. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester.
  3. Kompetensi dasar  tidak dapat digabungkan.
  4. Kompetensi dasar harus tetap diajarkan.
  5. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca menulis dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral.
  6. Tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa.

9.      Implikasi Pembelajaran Tematik.

  1. Implikasi bagi guru.
  2. Implikasi bagi siswa.
  3. Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media.

10.  Implikasi Terhadap Pengaturan Ruangan.

Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Mengatur ruangan.
  2. Pengorganisasian ruangan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

–          Susunan bangku peserta didik dapat diubah-ubah.

–          PD tidak selalu duduk dikursi.

–          Kegiatan hendaknya bervariasi di dalam maupun di luar kelas.

–          Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya siswa.

–          Alat, sarana, dan sumber belajar hendaknya dikelola.

11.  Implikasi terhadap pemilihan metode

Perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode missal percobaan, bermain peran, Tanya jawab, demonstrasi dan bercakap-cakap.

12.  Tahap Persiapan Pelaksanaan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik perlu dilakukan beberapa hal

  1. Tahap perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan kompetensi dasar.
  1. Pengembangan jaringan tema.
  2. Pengembangan silabus.
  3. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.

13.  Menetapkan Jaringan Tema

Jaringan tema menghubungkan kompetensi dasar dan indicator dengan tema pemersatu. Jaringan tema dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap tema.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s